Sebanyak 198 orang bertepatan rahinan Tumpek Wayang, Sabtu (6/2) kemarin, melaksanakan ritual bebayuhan Weton Sapu Leger. Pelaksanaan ritual dengan rasa kebersamaan ini bertujuan untuk menetralisir pengaruh kurang baik pada diri manusia khususnya bagi mereka yang lahir bertepatan pada wuku wayang. Mereka yang lahir pada wuku wayang ini sering dianggap sebagai anak sukerta yang akan menjadi santapan Bhatara Kala dan untuk menetralisir hal dimaksud, maka seorang yang terlahir pada wuku wayang tersebut harus disucikan dengan prosesi pengelukatan/bebayuhan Weton Sapu Leger.
Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Kecamatan Gianyar, I Gede Windia Berata, S.E., M.M., di sela-sela kegiatan ritual menyebutkan upacara Sapuh Leger ini dilaksanakan berdasarkan pada banyaknya keinginan umat se-dharma yang ingin mewujudkan upacara bebayuhan, hanya saja terkendala jika dilaksanakan perseorangan. Untuk itu, warga pasek yang mempunyai dana, pengetahuan, tenaga dan keterampilan dan lain-lain diajak bersama-sama dalam rangkaian kegiatan ritual ini.
Pelaksanaan bayuh oton sapuh leger diikuti oleh 198 orang dan 40 orang ritual potong rambut, yang berasal dari Kabupaten Bangli, Klungkung, Karangasem, dan Gianyar. Kegiatan yang dilaksanakan mulai dari 31 Januari hingga 5 Februari diawali dengan pelaksanaan di rumah masing-masing peserta. Puncaknya, Sabtu kemarin, semua peserta dengan berbusana putih kuning mengkuti pelaksanaan upacara yang di-puput oleh Ida Pandita Mpu Nabe Purwanatha Griya Pemacekan, Siangan, Ida Pandita Mpu Catur Dharma Daksa Natha, Griya Sebatu, Tegallalang, serta Ida Pandita Mpu Jaya Dangka Sukerta, Griya Giri Kencana Sumampan, Sukawati.
Semua kegiatan yang dilakukan ini merupakan implementasi ajaran Agama Hindu berlandaskan tiga kerangka dasar Agama Hindu yang dimulai dari memahami filosofis agama tatwa, penunjukan tingkah laku etika serta melakukan pendekatan ke hadapan Ida Hyang Widi Wasa dengan melaksanakan upacara agama agar terwujud suatu keharmonisan dan keselarasan.[sumber]

Recent Comments