Bali mewarisi tidak kurang dari 25 jenis alat musik gamelan tradisional, yang seluruhnya mengandung tendensi untuk menunjang dan mengabdikan kehidupan keagamaan umat Hindu. “Dari alat musik sebanyak itu, sepuluh di antaranya berbahan baku bambu, sementara yang lain dari logam,” kata I Kadek Suartaya, SS Kar, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Sabtu (29/11).
Ia mengatakan, penciptaan dan perkembangan aneka jenis gamelan tradisional Bali itu, dilakukan nenek moyang melalui proses yang cukup panjang, mulai dari dasar-dasar kesenian pada zaman pra-Hindu hingga masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. Perkembangan seni tabuh dan tari Bali itu erat kaitan dengan berbagai kesusastraan yang menjadi sumber dalam ajaran Hindu.
“Hubungan timbal-balik antara jenis kesenian dengan kegiatan ritual Hindu, menjadikan hampir semua jenis kesenian yang ada mengandung seni keagamaan, bukan kesenian untuk seni semata-mata,” katanya.
Suartaya, kandidat doktor pada Program S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana itu menambahkan, pengalaman Bali sebagai sebuah wilayah budaya, memiliki potensi dan aset seni yang cukup besar. Gamelan berbahan logam gong kebyar merupakan salah satu gamelan Bali yang berkembang sejak tahun 1915, dan kini dapat dijumpai pada setiap banjar atau desa di Bali.
Meskipun demikian, eksistensi gamelan dari bahan bambu tidak kalah penting dibandingkan dengan gong kebyar, karena perangkat itu juga memiliki instrumen yang nyaris mirip dengan gamelan gong. “Seruling atau suling bambu, misalnya, masuk dalam hampir setiap barungan atau seperangkat gamelan Bali, sebagai pembawa melodi dan mempermanis lagu,” tutur Kadek Suartaya.
Tarian gambuh yang menjadi dasar dari sebagian besar seni tari di Bali, menempatkan instrumen suling sebagai alat musik terpentingya. Aneka bentuk gamelan bambu yang hingga kini masih diwarisi dan diteruskan, terungkap berfungsi sebagai gamelan ritual dan adat, serta tetap sebagai ungkapan seni murni dan hiburan.G ambang misalnya, adalah gamelan yang disajikan saat prosesi upacara agama. Ansembel “xylophone” bambu dimainkan dengan panggul (alat pemukul) bercabang dua, tutur Kadek Suartaya.[sumber]

Recent Comments