Tim dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan temuan beberapa batu bertekstur kuno di lokasi rencana bangunan gedung perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, adalah struktur candi.
“Dipastikan itu struktur candi peninggalan abad IX-X pada masa Hindu-Budha atau Mataram Kuno,” kata arkeolog BP3 Sri Mulyantini saat meninjau lokasi, Sabtu (12/12).
Terkait temuan itu, langkah yang diambil tim BP3 adalah melakukan penggalian atau pun test pit untuk mendapatkan banyak temuan lagi. Temuan-temuan tersebut akan memperjelas kapan candi dibangun, pada masa raja siapa, fungsi candi, dan sebagainya. Tim membutuhkan waktu seminggu hingga 10 hari. “Maksimal satu bulan,” kata Ketua Kelompok Kerja Perlindungan BP3 Indung Panca Putra.
Tim BP3 akan membuat kesepakatan dengan pihak UII untuk melakukan penghentian sementara pembangunan gedung untuk proses ekskavasi.
Rektor UII Eddy Suandi Hamid menyatakan mendukung upaya pelestarian benda-benda cagar budaya. Hanya saja, pihaknya keberatan jika waktu yang dibutuhkan satu bulan, sehingga meminta waktu penggalian dipercepat. “Terlalu lama, karena kita juga membutuhkan perpustakaan. Jadi pembangunan tetap jalan,” tandas Eddy.
Meski demikian, Eddy juga menyiapkan langkah antisipasi jika pembangunan tidak bisa dilanjutkan di lokasi tersebut dengan alasan pelestarian bangunan cagar budaya.
“Kita akan berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan dan pemerintah daerah setempat untuk menyediakan alternatif tempat,” kata Eddy.
Latar belakang agama dari struktur candi tersebut bisa dilihat dari bentuk ukiran candi, di mana salah satu bentuk batu yang ditemukan diduga merupakan bagian tepi bangunan dengan ukiran yang masih terlihat pada bagian antevix atau sudut bangunan pada kedua ujungnya. Ukurannya 270×50 sentimeter persegi. Candi Hindu-Budha juga biasa berdiri menghadap ke arah barat atau timur. Ciri khas itu sesuai dengan posisi antevix saat ditemukan. “Arah penelitian kita nantinya ke arah barat,” kata Indung.
Dugaan tersebut didukung hasil survei yang pernah dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda pada 1910 yang ditulis arkeolog Prof. Mundarjito bahwa di wilayah Ngaglik banyak ditemukan batu-batuan candi. Bahkan ada nama salah satu dusun yang menjadi toponem yang tidak jauh dari kampus UII, yaitu Dusun Candi. Candi tersebut diduga rusak atau terkubur akibat tujuh-delapan kali diterjang banjir lahar letusan Gunung Merapi masa lampau.
Batu-batu candi itu ditemukan pada 11 Desember sekitar pukul 09.00-10.00 WIB oleh para pekerja proyek pembangunan gedung perpustakaan UII. Lokasinya di dalam tiga galian dari 24 galian yang ada untuk pemasangan pondasi. Awalnya, ukuran galian 3,5×3,5 meter persegi dengan kedalaman tiga meter.
“Tapi ketika diperdalam lagi setengah meter, kita malah menemukan batu-batu itu,” kata juru ukur proyek Asnawi.
Awalnya, para pekerja mengira bebatuan itu nisan kuburan. Batu yang ditemukan pada lubang pertama nyaris hancur karena terkena alat pekerja, sehingga dikeluarkan dari lubang. Sedangkan batu yang diduga bagian tepi candi yang ditemukan di lubang kedua maupun batu lain di lubang ketiga masih di posisi semula. Akibatnya, para pekerja bangunan diliburkan sejak Sabtu lalu.[sumber]

Recent Comments