Jalan layang yang seakan tabu di Bali, mulai mendapatkan lampu hijau dari lembaga umat tertinggi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali. Malah dipastikan akan mendukung kemungkinan dibangun jalan layang di Pulau Dewata.
Jalan layang ini rencananya didanai pemerintah pusat. Ancer-ancernya akan dibangun jalan dari Bandara Ngurah Rai- Nusa Dua dan Bandara Ngurah Rai-Simpang Dewa Ruci (Simpang Siur).
Ketua Sabha Panditha PDHI Pusat Ida Pedanda Sebali Tianyar menegaskan Bali mau tidak mau berani menerima jalan layang.Lagipula dari tinjauan agama tidak ada masalah. Asalkan saja lokasi dipetakan. Mana boleh dana mana saja tidak boleh. Ini dikaitkan dengan esetetika Bali.
”Sangat setuju digagas jalan layang. Kalau memungkinkan jalan bawah tanah pun oke. Tentu semuanya harus dibarengi dengan kajian. Tujuannya agar nantinya tidak mengganggu aktivitas lainnya, termasuk agama,” ungkap Pedanda Sebali Tianyar saat diwawancarai Kamis (24/12).
Pedanda vokal ini menegaskan, jika teknologi untuk membuat nyaman kehidupan manusia sudah diadopsi dalam beragama. Misalnya merajan atau pura mulai dibangun bertingkat. Di bawahnya ada usaha dan rumah di atas pura. Begitu juga dengan jalan tinggi dengan tetap mengusahakan tidak melintasi pura-pura. ”Ketika tri murti bersifat horizontal, ada tri sakti yang bersifat vertikal, bertingkat. Jadi nggak ada masalah,” sebut pedanda yang guru bahasa Inggris ini.
Soal munculnya pro-kontra, Pedanda Sebali menyebut bisa dijawab dengan sosialosasi. Berikan kesadaran pada umat agar mengerti betul akan program ke depan, termasuk jalan layang. Hindari provokasi, fitnah dan curiga. ”Tidak boleh ngugu pisuna (percaya fitnah), jangan bertengkar. Mari berdebat yang baik demi pembangunan yang baik. Berdebat untuk membuat kebaikan, tidak untuk menggagalkan sesuatu yang tidak cocok dengan prinsip pribadi,” sebutnya.
Tahun 1993, lanjut Pedanda Sebali, sudah sempat mengusulkan jalan bawah tanah. Bahkan jangan takut biaya besar. Biaya akan menjadi murah jika bisa menghilangkan korupsi. ”Kalau dikorupsi terus, jelas terus kurang,” sentil pedanda yang kerap kocak dalam berpidato ini.
Kata Pedanda Sebali jalan merupakan simbol dari bhuana agung yang berkuasa di dunia. Sehingga ada ungkapan hati-hati di magra agung (di jalanan). Saat ini jalan di Bali penuh kemacetan. Setiap orang mudah emosi di jalanan, kadang-kadang bisa kecelakaan. Sehingga intelektual atau Jnana pada manusia Bali dikedepankan dengan alam kebijaksanaan.
”Seperti rencana jalan layang dari bandara ke Nusa Dua dan bandara ke Simpang Dewa Ruci. Kalau memang untuk menyelesaikan masalah di Bali, kenapa tidak. Ayo bahas, jangan dibiarkan,” tukas pucuk tertinggi PHDI Pusat ini.
Hal sama juga diungkapkan Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Ketut Wiana. Ungkapan dia malah lebih ekstrem lagi. Katanya sudah 17 tahun silam mengusulkan jalan layang. Ketika rancangan pembangunan By Pass IB Mantra. Tujuannya menghindarkan hektaran sawah jadi jalan, dan pinggir jalan beralih fungsi jadi beton. ”Selama ini penolakan orang tidak jelas. Dan tidak paham masalah, landasan tidak ada. Karena jelas dalam agama tidak ada melarang jalan layang,” tegas Wiana.
Dosen Unhi (Universitas Hindu Indinesia) ini mengatakan, jika memang Bali ngotot tidak mau jalan layang, idealnya Bali hanya mampu dihuni oleh 2 juta orang. Dalam kondisi Bali seperti sekarang, jelas tidak bisa menjadikan manusia Bali hanya 2 juta. Sehingga mesti ada terobosan dalam pembangunan jalan ke atas agar lahan tidak habis.
Wiana secara tegas setuju dan tidak memasalahkan rencana jalan layang Bandara Ngurah Rai-Nusa Dua-Dewa Ruci. Dengan catatan semua dilakukan dengan kajian matang. ”Kalau semuanya datang dengan niat baik, memanfaatkan teknologi yang ada jelas bisa. Makanya kaji bersama, duduk bersama,” lanjut Wiana.
Dirinya siap berdebat dengan siapa saja yang mau mempersoalkan rencana tersebut. ”Siapa yang protes, saya siap debat mempertahankan pendapat saya ini. Namun mesti dengan landasan dan dasar yang jelas, bukan suryak siu. Dalam masalah seperti ini ayo cari jalan yang terbaik,” tantang Wiana.
Soal melasti, tegas Wiana tidak ada masalah seperti disebutkan dalam lontar Siwa Sidanta. ”Bunyi teksnya begini, yan sampun roras guli tan keneng paran-paran. Artinya, di atas 12 guli atau 25 cm, tidak ada apa-apa, tidak masalah. Tidak leteh, pretime lewat nggak masalah. Tuhan ada di mana-mana. Jangan pemikiran kita terkotak. Orang Pedanda Made Sidemen, Sanur mesulub tidak masalah,” tegasnya.
Namun jika ada perasaan umat kurang enak, kenapa tidak melintas di jalur jalan layang saja. Tentu nantinya dirancang agar mengakomodasi kepentingan melasti dan sebagainya. ”Semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Kalau ada kekhawatiran, tentu juga ada jalan keluarnya,” tuntas Wiana.
Seperti diwartakan sebelumnya, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan masalah kemacetan Bandara-Nusa Dua dan Bandara-Simpang Dewa Ruci sudah sangat parah. Namun satu-satunya jalan keluar dengan jalan layang, karena tidak bisa lagi melebarkan jalan ke samping.[sumber]

Recent Comments